Perjalanan ini dimulai dari kota kelahiranku, dari Bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima. Pagi itu aku kembali menapaki perjalanan jauh, bukan sekadar berpindah tempat, tetapi mencari ilmu dan pengalaman dari perempuan-perempuan hebat yang datang dari berbagai Sekolah Perempuan. Aku tidak sendiri, aku pergi bersama dua perempuan hebat dari SP Srikaya Desa Roka dan tentunya dengan Anggota La Rimpu, Ia biasa aku sapa ‘Mbak Mira’. Kami berkumpul dalam sebuah kegiatan Forum Perempuan Perdamaian yang diselenggarakan oleh AMAN Indonesia. Pesawat yang kutumpangi terlebih dahulu singgah di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid. Dari sana perjalanan berlanjut menuju Bandara Internasional Juanda. Setelah menunggu beberapa saat, perjalanan kembali dilanjutkan hingga akhirnya kami mendarat di Bandara Internasional Juanda.

Dari Surabaya, kami melanjutkan perjalanan menuju sebuah desa di kaki gunung yaitu Desa Ranupani. Mobil terus melaju berjam-jam. Waktu terasa berjalan sangat lambat. Jalan yang kami lalui semakin lama semakin sunyi, jalanan yang berkelok serta terjal. Di dalam mobil aku sempat merasa pusing. Tubuh terasa lelah setelah perjalanan panjang. Beberapa saat kemudian aku tertidur, mencoba memejamkan mata untuk mengusir rasa tidak nyaman. Namun tidur itu tidak berlangsung lama. Aku terbangun kembali ketika mobil berguncang melewati jalan yang tidak rata. Saat membuka mata, yang kulihat hanyalah gelap malam. Di luar jendela, hanya bayangan pepohonan rimbun tinggi menjulang yang sesekali diterangi lampu kendaraan. Sesekali terlihat jalanan yang sempit dengan jurang di sisi-sisinya, membuat perjalanan terasa semakin menegangkan Perjalanan terasa begitu panjang, seakan waktu berputar lebih lambat dari biasanya.

Hingga akhirnya, sekitar pukul 20.00 malam, mobil kami tiba di sebuah desa yang begitu indah. Udara di desa itu terasa sangat dingin, menusuk hingga ke kulit. Kami akhirnya sampai di Desa Ranupani. Namun dinginnya udara segera terhangatkan oleh keramahan orang-orang yang menyambut kedatangan kami. Senyum dan sapaan mereka membuat tangan yang sedari tadi terasa kaku perlahan menghangat. Saya memandang sekeliling desa itu dengan perasaan takjub. Keindahan alamnya begitu memukau. Desa ini masih sangat asri, dikelilingi alam yang bersih dan tenang, seolah jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota. Dalam hati saya berkata pelan,

“Tidak sia-sia berada di mobil berjam-jam. Semua kelelahan ini akhirnya terbayar dengan keindahan alam Desa Ranupani yang begitu bersahabat.”

Semua rasa lelah itu seolah terbayar lunas ketika melihat keindahan alam Desa Ranupani yang masih begitu asri, tenang, dan bersahabat. Di tempat inilah aku kembali belajar, belajar dari alam, dari perjalanan, dan dari perempuan-perempuan hebat yang sama-sama sedang menyalakan harapan bagi perdamaian. Keesokan harinya kami berkumpul di tempat luas dekat pasar tradisional. Sebanyak kurang lebih empat puluh peserta bertemu di bawah kaki gunung semeru itu, dengan berbagai suku, budaya, ras, agama namun memiliki visi misi yang sama yaitu Menciptakan Perempuan Pembawa Perdamaian. Hari Senin tepatnya, acara pembukaan itu menyatukan semua perempuan keterwakilan dari berbagai propinsi dan daerah. Ada yang memakai pakaian adatnya, dengan warna-warna indah dan keunikannya masing-masing, ada juga yang membawa makanan serta produk khas daerah hasil usaha mandiri kelompk perempuan bahkan ada yang membawa hasil alam berupa tanaman, bibit, biji-bijian dari daerahnya.

Sedang aku membawa bawang merah Bima, produk usaha mandiri jamu herbal Angi Ndai milik salah satu anggota Salungka Desa Kalampa yaitu Ibu Turaya, kuperlihatkan dan ktawarkan kepada ibu-ibu dan ada yang terjual. Setelah mengurus stand bazar UMKM kami diarahkan untuk duduk karena sesaat lagi acara pembukaan mau mulai. Betapa bangganya hati ini memakai baju adat Bima buatan tangan dari kak Nisa Cahya, bisa menunjukkan kepada forum nasional bahwa inilah salah satu identitas Bima. Sembari kami menunggu tamu kehormatan, tiba-tiba aku diminta untuk membacakan puisi dan puisi itu baru kubuat lima belas menit sebelum tampil, bukan karena jago tapi karena puisi itu merupakan curahan hati bagaimana Bima dengan ketangguhan perempuannya pembawa perdamaian.

Acara pembukaan berlangsung menyenangkan, kami diajarkan memakai kaweng: Pakaian adat keseharian masyarakat desa ranupani dari sarung. Sesi foto-foto selesai, dilanjutkan dengan materi-materi bagus dari para fasilitator. Akan aku ceritakan bagaimana keseruan kami saat menerima materi. Betapa banyak ilmu yang aku dapatkan dari Forum Perempuan Perdamaian ini dan perjalanan ini kembali mengajarkanku bahwa mencari ilmu seringkali membutuhkan langkah yang jauh, tenaga yang besar, dan kesabaran yang panjang. Namun setiap perjalanan selalu menyimpan cerita yang tak terlupakan.

Akan aku ceritakan kelanjutannya di halaman lain. Sampai jumpa ….

*Arfiana Susanti, Pengurus Sekolah Perempuan Salungka Desa Kalampa

Share This

Share this post with your friends!