Hai, hari ini aku ingin kembali berbagi cerita tentang pengalamanku selama mengikuti Forum Perempuan Perdamaian di desa yang begitu cantik dan menenangkan, yaitu Desa Ranupani. Desa kecil ini berada di bawah kaki megahnya Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa yang selama ini hanya sering kudengar dari cerita para pendaki. Kini aku benar-benar berada di dekatnya, merasakan udara dingin pegunungan, melihat kabut yang turun perlahan di pagi hari, dan menyaksikan kehidupan masyarakat desa yang begitu sederhana namun penuh kehangatan. Hari kedua di tempat ini dimulai dengan suasana yang sangat berbeda dari hari sebelumnya. Setelah rangkaian acara pembukaan Forum Perempuan Perdamaian yang diselenggarakan oleh AMAN Indonesia selesai, kami para perempuan dari berbagai daerah kembali berkumpul dengan semangat yang sama: belajar, berbagi pengalaman, dan saling menguatkan.
Perempuan-perempuan yang hadir di forum ini berasal dari berbagai Sekolah Perempuan di banyak wilayah Indonesia. Kami datang dengan latar belakang yang berbeda, cerita perjuangan yang berbeda, dan tantangan yang berbeda di desa masing-masing. Namun satu hal yang menyatukan kami adalah semangat untuk terus belajar dan berkontribusi bagi perdamaian masyarakat.

Pagi itu, kami diarahkan menuju kantor desa. Kantor Desa Ranupani tampak indah dan memiliki fasilitas lengkap. Dari halaman kantor desa terlihat hamparan alam yang begitu indah. Pepohonan hijau berdiri tegak, udara terasa segar, dan kabut tipis sesekali menyelimuti perbukitan di sekitar desa. Rasanya seperti berada di tempat yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota.
Di ruangan kantor desa itulah sesi pembelajaran dimulai. Kami duduk melingkar, sebagian membawa buku catatan kecil, sebagian lagi memegang telepon genggam untuk mencatat hal-hal penting. Di hadapan kami sudah hadir beberapa fasilitator hebat, para presidium forum, serta beberapa perempuan yang akan berbagi cerita baik dari pengalaman mereka di Sekolah Perempuan. Suasana ruangan terasa hangat, bukan hanya karena aktivitas belajar yang dimulai, tetapi juga karena rasa persaudaraan di antara kami. Banyak dari kami baru pertama kali bertemu, namun percakapan mengalir begitu saja, seolah kami sudah lama saling mengenal.
Materi pertama yang kami dapatkan hari itu adalah tentang ketahanan pangan. Materi ini dibawakan oleh seorang perempuan yang luar biasa. Cara ia berbicara sangat tenang namun penuh keyakinan. Dari cara ia menjelaskan, kami bisa merasakan bahwa ia benar-benar memahami persoalan yang sedang dihadapi masyarakat saat ini. Ia kemudian menjelaskan bahwa saat ini masyarakat semakin bergantung pada makanan instan dan makanan siap saji. Banyak orang memilih makanan yang praktis karena dianggap lebih mudah dan cepat. Padahal tanpa kita sadari, kebiasaan ini membuat kita semakin jauh dari sumber pangan yang sehat dan alami. Ia menyebut bahwa salah satu strategi yang sangat penting untuk memperkuat ketahanan pangan berbasis komunitas adalah dengan memanfaatkan pekarangan rumah.
Menurutnya, pekarangan rumah yang sering dianggap sebagai ruang kosong sebenarnya memiliki potensi besar. Di sana kita bisa menanam berbagai jenis tanaman yang bermanfaat bagi kebutuhan sehari-hari: sayur-sayuran, cabai, tomat, tanaman obat keluarga, hingga buah-buahan.
“Ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari lahan yang luas,” katanya.
“Kadang cukup dari pekarangan kecil di rumah kita.”
Ia menjelaskan bahwa jika setiap rumah menanam sesuatu di pekarangannya, maka keluarga tidak akan terlalu bergantung pada pasar untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Selain itu, makanan yang dihasilkan juga lebih sehat karena kita tahu bagaimana proses penanamannya.
Kemudian ia memperkenalkan konsep real food. Menurutnya, makanan yang baik bagi tubuh adalah makanan yang berasal dari bahan alami, bukan makanan yang telah melalui terlalu banyak proses industri. Real food adalah makanan yang masih dekat dengan bentuk aslinya: sayuran segar, buah-buahan, umbi-umbian, biji-bijian, dan bahan pangan alami lainnya. Ia menjelaskan bahwa pola makan masyarakat saat ini perlahan berubah. Banyak orang lebih memilih makanan yang cepat disajikan, makanan dalam kemasan, atau makanan instan yang sebenarnya kurang baik jika dikonsumsi terus-menerus.
Ketika ia menjelaskan hal ini, aku mulai merenung. Ternyata apa yang ia katakan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Banyak dari kita, tanpa sadar, lebih sering membeli makanan yang sudah jadi daripada memasak sendiri dari bahan segar. Padahal jika kita kembali pada makanan alami, tubuh kita akan lebih sehat, dan kita juga bisa membantu menjaga keberlanjutan lingkungan. Ia juga menekankan bahwa perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga ketahanan pangan keluarga. Perempuan seringkali menjadi orang yang menentukan makanan apa yang dimasak di rumah, apa yang ditanam di pekarangan, dan bagaimana keluarga mengelola kebutuhan sehari-hari. Karena itu, jika perempuan memiliki pengetahuan dan kesadaran tentang pentingnya ketahanan pangan, maka perubahan besar sebenarnya bisa dimulai dari rumah.
Aku melihat banyak peserta yang mengangguk-angguk selama materi berlangsung. Beberapa bahkan langsung menuliskan ide-ide kecil di buku catatan mereka.
Suasana diskusi menjadi semakin hidup ketika fasilitator membuka sesi berbagi pengalaman. Beberapa perempuan dari berbagai Sekolah Perempuan mulai menceritakan praktik baik yang telah mereka lakukan di desa masing-masing. Cerita-cerita itu terasa sangat menginspirasi.
Di ruangan sederhana kantor desa itu, kami tidak hanya mendengarkan materi. Kami juga belajar dari pengalaman satu sama lain. Setiap cerita membawa semangat baru bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil. Aku kembali menyadari bahwa forum seperti ini bukan hanya tempat untuk belajar teori, tetapi juga ruang untuk mempertemukan perempuan-perempuan yang memiliki semangat yang sama.
Di Desa Ranupani yang dingin namun indah ini, aku merasa sedang berada di ruang yang penuh harapan. Harapan bahwa perempuan-perempuan dari berbagai daerah bisa saling menguatkan. Harapan bahwa desa-desa bisa menjadi lebih mandiri.
Dan harapan bahwa dari pekarangan-pekarangan kecil di rumah kita, ketahanan pangan bisa mulai tumbuh kembali. Hari itu, di bawah kaki Gunung Semeru, aku belajar bahwa perubahan besar seringkali dimulai dari hal-hal yang sangat sederhana: menanam, merawat, dan kembali menghargai makanan yang berasal dari alam.[]
*Arfiana Susanti, Pengurus Sekolah Perempuan Salungka Desa Kalampa