Bima, 19 Maret 2025 – Wahid Foundation, bekerja sama dengan La Rimpu dan LP2DER serta didukung oleh UN Women, menyelenggarakan Kelas Inisiator Perdamaian (KIP) di Kota Bima pada 17-19 Maret 2025.

Sebanyak 35 orang muda dari 4 desa di Kabupaten Bima (Roi, Rato, Samili, Ncera) dan 3 kelurahan di Kota Bima (Penatoi, Dara, Paruga) mengikuti program inkubasi ini sebagai langkah awal dalam penguatan kapasitas dan peran aktif mereka sebagai penggerak perubahan di komunitas.

Mengusung tema “Orang Muda, Narasi Alternatif, dan Perdamaian”, program ini bertujuan meningkatkan kapasitas anak muda dalam membangun narasi alternatif yang mendukung perdamaian, kesetaraan gender, dan pelibatan bermakna di lingkungan mereka.

Baca juga: Dilibatkan dalam Kelas Inisiator Perdamaian, La Rimpu Siap Wujudkan Perdamaian

Hari pertama, peserta dikenalkan dengan 9 Nilai Gus Dur sebagai pijakan utama dalam membangun narasi alternatif dan relevansinya dengan konteks sosial di Bima. Selain itu, peserta juga dibekali dengan kemampuan menganalisis konflik, mengubah konflik destruktif menjadi perubahan yang konstruktif, dan pelibatan bermakna orang muda dalam pembangunan masyarakat.

Semakin kita memahami dan menginternalisasi nilai-nilai ini, semakin kita bisa mengubah konflik destruktif menjadi perubahan yang konstruktif, Rizkiana Alba, Knowledge Management dan Leader Empowerment Program Coordinator, Wahid Foundation.

Sebagai bagian dari pemahaman mengenai pelibatan aktif orang muda, peserta diperkenalkan dengan metode Tangga Partisipasi (Ladder of Participation). Metode ini membantu peserta memahami berbagai tingkatan keterlibatan orang muda dalam pengambilan keputusan, dari partisipasi simbolis hingga keterlibatan yang bermakna. Dengan memahami konsep ini, peserta dapat menilai sejauh mana mereka telah dilibatkan dalam komunitas mereka dan bagaimana mereka dapat meningkatkan peran aktifnya.

“Sering kali, informasi tentang musyawarah desa hanya diberikan kepada tokoh masyarakat tertentu. Jika ingin anak muda terlibat, desa harus lebih transparan dalam penyebaran informasi,Fani, Peserta Desa Roi.

Pada hari kedua, sesi diawali dengan diskusi lebih mendalam mengenai gender dan konstruksi sosial. Melalui metode interaktif seperti Body Mapping (Gambar Laki-laki dan Perempuan Dewasa), peserta menggali apa yang mereka ketahui tentang karakteristik, kepribadian, dan kemampuan yang melekat dan dimiliki oleh laki-laki dan perempuan dewasa.

Body Mapping ini efektif memicu diskusi kritis dan reflektif peserta dalam memahami konstruksi sosial yang melekat pada gender. Dengan menggambar dan menuliskan karakteristik laki-laki dan perempuan dewasa, peserta dapat menyadari bagaimana stereotip terbentuk dan diwariskan dalam masyarakat.

Pendekatan ini juga menciptakan ruang aman untuk diskusi kritis, memungkinkan peserta menantang asumsi mereka sendiri serta memahami bahwa peran gender lebih bersifat sosial daripada biologis. Hal ini ini membantu peserta menghubungkan konsep gender dengan pengalaman pribadi, sehingga memudahkan mereka untuk memotret realitas kehidupan masyarakat Bima sendiri yang masih kuat akan ketimpangan dan ketidakadilan gender.

Merespon diskusi yang semakin kritis tersebut, Nurdin (Fasilitator La Rimpu) memaparkan materi tentang kesetaraan gender dalam perspektif masyarakat Bima dengan memutarkan video dokumenter “The Impossible Dream”, yang menggambarkan bagaimana sistem patriarki masih berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Video ini memicu refleksi peserta tentang ketidaksetaraan dalam pembagian peran domestik dan publik antara laki-laki dan perempuan di keluarga dan lingkungan mereka masing-masing.

Nilai kearifan lokal masyarakat Bima seperti konsep Dou di Uma dan Angi menjadi refleksi utama dalam memahami bagaimana norma sosial dapat diperkuat untuk mendorong keadilan gender dan mempertajam pemahaman peserta bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama menjadi makhluk domestik dan publik.

“Kesetaraan gender bukan berarti mengambil hak satu pihak, tetapi memastikan semua orang mendapat kesempatan yang sama.” – Nurdin, Fasilitator La Rimpu.

Selain itu, isu lingkungan juga menjadi bagian krusial dalam pelatihan ini. Dalam sesi bersama BPBD Kabupaten Bima, peserta diajak untuk memahami bahwa Bima merupakan daerah yang rentan terhadap bencana, seperti banjir, kekeringan, abrasi, dan kebakaran lahan. Faktor utama yang memperburuk kondisi ini adalah degradasi lingkungan akibat deforestasi, pengelolaan sampah yang buruk, serta perubahan iklim yang semakin ekstrem.

Menurut Hardiansyah, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Bima, “Perubahan iklim bukan hanya isu global, tetapi juga masalah yang sangat dekat dengan kita. Apa yang kita lakukan hari ini menentukan masa depan kita.” Ia juga menekankan pentingnya peran orang muda dalam mitigasi bencana dengan meningkatkan kesadaran masyarakat, mengembangkan program berbasis komunitas, serta memanfaatkan media sosial untuk kampanye lingkungan.

Diskusi ini memperjelas bahwa keterlibatan anak muda dalam aksi lingkungan sangat penting untuk membangun ketangguhan komunitas dan mengurangi risiko bencana di masa depan. Dengan menghadirkan narasumber dari BPBD Kabupaten Bima, peserta diajak untuk memahami dampak perubahan iklim dan bagaimana mitigasi bencana dapat menjadi bagian dari kampanye sosial yang lebih luas.

Narasi Alternatif

Hari terakhir peserta difokuskan pada teknik membangun narasi alternatif melalui media digital dan komunikasi berbasis kearifan lokal. Fasilitator Kalis Mardiasih memberikan wawasan mengenai cara menyusun kontra-narasi dan membuat narasi alternatif yang mengandung nilai-nilai perdamaian terhadap berita palsu, intoleran dan provokasi yang sering tersebar di media sosial. Peserta juga memetakan media komunikasi lokal yang bisa digunakan untuk menyebarkan pesan perdamaian, termasuk penggunaan toa masjid sebagai media informasi di beberapa desa di Bima.

“Narasi bisa menjadi alat untuk membangun atau menghancurkan sebuah komunitas. Kita harus memilih untuk membangun.” – Kalis Mardiasih, Penulis dan Aktivis.

Di akhir sesi, peserta diajak kembali untuk merefleksikan tingkat partisipasi dan pelibatan mereka dalam masyarakat dan komunitas mereka melalui  teori Bunga Partisipasi. Peserta diajak untuk merefleksikan dan memahami faktor-faktor pendukung pelibatan mereka di komunitas dan sejauh mana mereka sudah dilibatkan dalam proses pembangunan desa dan kelurahan mereka.

Baca juga: Peserta Kelas Inisiator Perdamaian, “Field Trip” ke Desa Dampingan Kampo Mahawo

“Partisipasi bermakna itu seperti bunga—tumbuh subur dengan dukungan, mekar dengan ruang aman, dan berkembang saat suara orang muda benar-benar didengar.” – Dwinda Nur Oceani, Project Officer “We Nexus Program”.

Peserta kemudian mengikuti simulasi Power Walk, di mana mereka diajak untuk memahami bagaimana faktor sosial dan ekonomi mempengaruhi akses terhadap kesempatan serta hak-hak individu dalam masyarakat. Melalui simulasi ini, peserta dapat merasakan langsung bagaimana ketimpangan sosial terjadi dan bagaimana mereka dapat berkontribusi dalam menciptakan ruang yang lebih inklusif bagi semua orang.

“Anak muda itu bukan hanya penonton, kita adalah bagian dari perubahan. Suara kita penting!” – Yumi, Peserta dari Desa Ncera.

Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman teoritis, tetapi juga didorong untuk langsung menyusun rencana tindak lanjut yang akan mereka implementasikan di komunitas masing-masing. Dalam sesi refleksi, peserta menyatakan antusiasme mereka untuk menerapkan ilmu yang didapat, baik dalam bentuk kampanye media sosial, diskusi komunitas, maupun aksi nyata di lingkungan mereka.

Dengan semangat partisipasi dan pelibatan bermakna dalam pembangunan, Kelas Inisiator Perdamaian menjadi langkah awal bagi anak muda Bima untuk membangun narasi alternatif yang lebih damai, adil, dan berkelanjutan. Harapannya, orang muda ini dapat terus berkontribusi dalam menciptakan perubahan positif di masyarakat mereka.

* Nurdin Maskur, Research, Education, and Development, La Rimpu