Oleh: Olviana

Tidak semua perjalanan kepemimpinan dimulai dari ruang yang besar. Ada yang dimulai dari rasa ingin terlibat, dari ruang kecil yang awalnya bahkan tidak memberi tempat. Itulah kisah Kak Olviana, seorang perempuan yang kini dikenal sebagai penggerak perempuan di Desa Kele’i, Kabupaten Poso.

Keseharian Kak Olviana adalah sebagai seorang guru mata pelajaran IPA di SMP. Di tengah kesibukannya mengajar, ia memiliki ketertarikan besar terhadap berbagai kegiatan pemberdayaan perempuan di desa. Namun pada awalnya, ia hanya bisa mendengar cerita tentang kegiatan tersebut dari orang lain. Ia belum pernah dilibatkan secara langsung.

Sebagai seorang pendatang yang mengikuti suami tinggal di desa tersebut, Kak Olviana belum banyak mengenal orang. Jaringan sosialnya masih sangat terbatas. Meski demikian, keinginannya untuk terlibat dalam kegiatan perempuan tidak pernah surut. Ia merasa kegiatan-kegiatan tersebut penting dan ingin menjadi bagian dari proses perubahan di desa.

Kesempatan mulai terbuka ketika ia dilibatkan dalam kelompok kecil yang ada di gereja. Dari situlah perlahan langkahnya dimulai. Pada tahun 2018, ia dipercaya menjadi pengurus sektor Persekutuan Perempuan di gereja. Kepercayaan itu terus berkembang hingga pada tahun 2022 ia terpilih menjadi Ketua Persekutuan Perempuan Jemaat Desa Kele’i dan menjabat hingga sekarang.

Sejak saat itu, ruang geraknya semakin luas. Ia mulai dikenal sebagai salah satu tokoh perempuan di desa. Melalui posisi tersebut, Kak Olviana mulai aktif berjejaring dengan berbagai kelompok perempuan dan organisasi lainnya. Ia belajar beradaptasi, membangun komunikasi, serta membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak.

Namun perjalanan itu tidak selalu mudah. Salah satu tantangan yang ia hadapi adalah soal usia. Sebagai ketua yang relatif lebih muda dibanding anggota lainnya, ia sering merasa kurang didengar. Banyak anggota yang usianya jauh lebih tua dan dianggap memiliki pengalaman yang lebih banyak. Di sisi lain, Kak Olviana juga sempat merasa bahwa potensi yang ia miliki masih sangat terbatas.

Alih-alih menyerah, ia memilih untuk mencari strategi. Ia mulai melakukan pendekatan kepada tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh di desa, baik tokoh perempuan maupun aktor-aktor penting lainnya. Salah satu langkah penting yang ia lakukan adalah melakukan pemetaan kebutuhan perempuan di desa, baik perempuan usia produktif maupun perempuan lansia.

Dari pemetaan tersebut, berbagai program mulai dirancang berdasarkan kebutuhan nyata perempuan. Kolaborasi dengan berbagai aktor perempuan di desa maupun di tingkat Kabupaten Poso pun mulai terbangun. Kegiatan yang sebelumnya hanya berfokus pada ibadah di gereja kemudian berkembang menjadi ruang pemberdayaan perempuan.

Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain pelatihan kesehatan mental, diskusi tentang perempuan dan digitalisasi, serta berbagai kegiatan peningkatan kapasitas diri perempuan. Bahkan dalam beberapa kesempatan, khotbah dalam ibadah digantikan dengan materi pelatihan yang lebih relevan dengan kebutuhan perempuan.

Selain itu, Persekutuan Perempuan juga memiliki program kunjungan kepada perempuan yang sedang sakit atau baru melahirkan, baik ke rumah, puskesmas maupun rumah sakit. Program ini menjadi bentuk kepedulian sekaligus ruang komunikasi untuk mengetahui kebutuhan perempuan secara langsung.

Untuk perempuan lansia, mereka memiliki program kunjungan rutin satu kali dalam sebulan. Donasi yang dibawa berasal dari iuran pribadi para pengurus Persekutuan Perempuan. Melalui kunjungan ini, mereka tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga membangun kedekatan dan mendengarkan cerita para lansia.

Dari proses tersebut akhirnya terbentuk Persekutuan Lansia pada tahun 2024. Para lansia kini memiliki ruang sendiri untuk beribadah, berkegiatan, dan terlibat dalam berbagai acara, termasuk perayaan Hari Ulang Tahun Persekutuan Perempuan. Saat perayaan Natal, para lansia juga diberikan hadiah berupa kebutuhan yang bermanfaat seperti sweater, selimut, dan tumbler untuk minuman hangat.

Tidak hanya lansia, perhatian juga diberikan kepada anak-anak yatim piatu. Mereka diberikan ruang khusus untuk berkumpul dalam kegiatan ibadah serta sesi berbagi dan penguatan kapasitas bagi anak muda. Pada momen Natal, anak-anak tersebut juga menerima hadiah sebagai bentuk kasih dan perhatian dari komunitas.

Berbagai gerakan dan pendekatan yang dilakukan oleh Kak Olviana akhirnya membuka jalan baru dalam perjalanan aktivismenya. Dari proses itulah ia kemudian terhubung dengan Sekolah Perempuan (SP) Watumoali. Ia mengikuti kelas reguler, belajar bersama perempuan-perempuan lainnya, hingga akhirnya terlibat dalam pembentukan Tim Tangguh dan dipercaya menjadi ketua tim tersebut.

Perjalanan yang awalnya dimulai dari rasa ingin dilibatkan kini membawa Kak Olviana ke ruang yang lebih luas. Pada tahun 2026, ia bahkan berkesempatan terlibat dalam kegiatan Forum Perempuan Perdamaian yang diselenggarakan di Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Bagi Kak Olviana, keterlibatan dalam forum tersebut adalah pengalaman yang sangat membahagiakan. Ia merasa bangga bisa menjadi bagian dari ruang belajar bersama perempuan-perempuan hebat dari berbagai daerah di Indonesia.

Perjalanan Kak Olviana menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan tidak selalu lahir dari posisi yang sudah mapan. Kadang ia tumbuh dari keinginan sederhana untuk terlibat, dari keberanian membangun relasi, dan dari kesediaan untuk terus belajar serta melayani komunitas.

Dari seorang pendatang yang hanya mendengar cerita tentang kegiatan perempuan, kini Kak Olviana telah menjadi bagian penting dari gerakan perempuan di desanya.

Share This

Share this post with your friends!